Showing posts with label Dua. Show all posts
Showing posts with label Dua. Show all posts

Saturday, May 12, 2012

PERLINDUNGAN DARI MAKHLUK HALUS




Pembaca yang dirahmati Allah Azza wa Jalla, meyakini keberadaan jin atau setan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang mulia ini. Alam mereka (para jin) sama sekali berbeda dengan alam manusia meskipun keduanya diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk satu tujuan yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriat/51:56]

Manusia tidak dapat melihat jin atau setan dengan kasat mata. Namun, mereka dapat melihat manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya dia (setan) dan anak keturunan dari bangsanya dapat melihat kalian sementara kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. [al-A‘râf/7:27]

Setan adalah musuh manusia yang selalu berupaya menjauhkan mereka dari jalan Allah Azza wa Jalla yang lurus. Setan mengajak para pengikutnya untuk menemaninya di neraka sa‘ir. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh (kalian), sesungguhnya setan itu mengajak para pengikutnya agar menjadi penghuni neraka (sa‘ir) yang menyala-nyala” [Fâthir/35:6]

Kebiasaan setan adalah mengelabui manusia, menghalangi dari kebaikan dan kebenaran. Dan menggelincirkan manusia dalam kesesatan adalah sumpahnya di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang ucapan Iblis:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis berkata, “Karena Engkau (ya Allah) telah menghukumku untuk tersesat, maka sungguh aku akan menghalanghalangi manusia dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi (menggoda) mereka dari hadapan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. [al-A`râf/7:16-17]

Mereka ada dimana-mana, siap menjadikan manusia sebagai mangsa kesesatannya. Berbagai metode ditempuh agar manusia jauh dari tauhid dan terjebak dalam lumpur kesyirikan atau kubangan dosa kemaksiatan. Semoga Allah k menjaga kita dari setiap keburukan. Amîn

“TAHAYUL” MENGGANGGU KENYAMANAN HATI
Mari kita perhatikan komentar-komentar berikut: “Hati-hati lho, ini tempat angker, hih…!”, “Awas, janganjangan, ada penunggunya..!?”, “Jangan sembarangan ah, aku takut mereka marah…!”, “Kalau mau selamat, berikan dulu sesajian…!”, “Hih…, tempat itu ngeri.!”. Semua ini adalah tebak reka penulis terhadap kalimat-kalimat yang mungkin diucapkan oleh sebagian orang saat berada di tempat-tempat yang dianggap seram. Demikian itu sebagai ungkapan rasa takut dan kekhawatiran mendapat celaka yang terjadi atas diri mereka di tempat tersebut. Bukan rahasia, yang mereka takuti itu adalah para jin atau setan yang dianggap dapat memberikan madharat (celaka) pada kondisi-kondisi tertentu. Parahnya, setelah ketakutan itu menghantui diri manusia yang lemah tauhid, sering kali mereka berlindung dari celaka dan ketakutan dengan cara-cara yang dapat merusak kesucian tauhid, bahkan memusnahkannya. Mereka menyandarkan diri kepada berbagai bentuk sesajen; sesajian berbungkus mistik kelam untuk meredam ketakutan mereka dan mencari ketenangan. Tanpa mereka sadari, tauhid dalam jiwa mereka rusak, seakan tiada mengenal Allah Azza wa Jalla. Padahal, tak satu pun yang berhak diminta perlindungannya selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Kuasa. Tiada satu pun yang mampu memberikan perlindungan selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Agung lagi Maha Kuasa atas segalanya. Satu hal yang dapat melegakan kita bahwa setan, binatang buas, manusia atau siapapun tidaklah dapat mendatangkan manfaat atau menimpakan madharat melainkan dengan izin Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: “Siapakah Rabb langit dan bumi?” katakan, jawabnya: “Allah”. Katakanlah, “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung bagimu dari selain Allah, padahal mereka tidak memiliki manfaat dan madharrat bagi diri mereka sendiri?!”… Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?!”. Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. [ar-Ra`du/13:16]

Maka hendaknya fenomena seperti ini dicermati dengan seksama dan diluruskan. Tujuannya, agar langkah setiap Muslim sesuai dengan pandangan syariat Islam yang benar dan sejalan dengan tauhid yang diserukan oleh Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segenap rasul sebelum beliau, dan agar tauhid ini tetap terjaga kemurniannya serta tidak tercemar dengan hal-hal beraroma syirik yang mendatangkan kebinasaan bagi pelakunya.

BENTENG TAUHID YANG LEMAH
Karena lemahnya benteng tauhid dan dangkalnya ilmu agama, sebagian kaum Muslimin masih larut dalam tahayul yang diwariskan dari masa ke masa. Akibatnya, bermunculan generasi rapuh tauhid yang mudah takut kepada bangsa jin dan setan, kemudian mencari perlindungan dari selain Allah Azza wa Jalla. Apabila mereka berada di tempat yang dianggap angker, atau melewati tempat berhawa menyeramkan, maka sontak bulu kuduk berdiri, keringat dingin membasahi dahi hingga ke ujung-ujung kaki. Mereka takut terjadi petaka pada diri mereka akibat jin penunggu tempat tersebut tidak merestui kehadiran mereka. Bagi sebagian orang, membakar “kemenyan” dan membaca “jampi mantera” tententu dapat membuat jin-jin itu tenang dan lebih akrab. Sebagian lain yang tidak sempat membakar kemenyan atau membaca mantera, mereka gemetar sambil memohon perlindungan kepada para jin untuk bisa menerima kehadiran mereka, dan meminta agar tidak menggangu atau mencelakai. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan sesungguhnya sebagian di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa di kalangan bangsa jin, maka para jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. [al-Jin/72:6]

Pada masa jahiliyah, seseorang yang melewati suatu lembah atau bermalam di sebuah tempat, dan merasakan ketakutan, biasa menyerukan “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari bangsa jin yang mengganggu?!”. Yakni berlindung kepada penguasa jin di tempat tersebut dari para jin yang mengganggu.[1] Namun, tidaklah permohonan lindungan dari jin itu dilakukan melainkan akan menambah semakin dahsyat ketakutan dan kelemahannya di hadapan jin. Karena itu para Ulama sepakat [2] bahwa memohon perlindungan dari jin hukumnya haram, bahkan justru akan menambah rasa takut serta kegelisahan hati. Sungguh, akibatnya dia akan semakin merasakan takut luar biasa, padahal dia berharap agar dijauhkan dari rasa takut itu. Sebagian Ulama menjelaskan bahwa manusia menjadikan jin semakin jahat dan congkak ketika mereka memohon perlindungan kepada para jin dan mereka menjadikan manusia semakin dihantui rasa takut terhadap para jin. [3]

MACAM-MACAM TAKUT
Para Ulama menjelaskan bahwa takut terbagi menjadi beberapa macamK

Pertama : Takut yang berkedudukan sebagai ibadah, yaitu takut kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ini adalah salah satu ibadah hati. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya baginya ada dua syurga”. [ar-Rahman/55:46]

Kedua: Takut yang bernilai syirik, yaitu seorang hamba yang takut kepada selain Allah Azza wa Jalla ; seperti takut kepada jin, mayat, atau selainnya sebagaimana takutnya kepada Allah Azza wa Jalla atau bahkan lebih. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya mereka adalah setan yang menakuti para pengikutnya, maka jangan takut terhadap mereka (para setan), dan hanya takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman”. [ali `Imrân/3:175]

Ketiga: Takut yang bernilai maksiat, yaitu ketakutan seorang hamba dari para manusia yang mengakibatkan dia meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Padahal, kondisi itu belum sampai pada kategori teror paksaan. Maka, ini adalah takut yang bernilai maksiat. Allah k berfirman: “Janganlah takut kepada manusia, takutlah hanya kepada-Ku..” [al-Maidah/5:44]

Keempat: Takut yang wajar sebagai tabiat manusia, sebagaimana ketakutannya kepada musuh, binatang buas, ular berbisa atau semisalnya. Takut jenis ini dimaklumi dengan syarat tidak lebih hanya sekedar takut atau khawatir yang sewajarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (tentang Nabi Musa): “Karena itu Musa menjadi takut (khawatir) di kota itu, dia menunggu dengan cemas dan khawatir…”.[al-Qashâsh/28:18 dan 21]

Kelima: Takut sang pengecut, yaitu takut yang tidak beralasan atau dengan alasan yang tidak masuk akal. Ini adalah takut yang tidak terpuji, pelakunya berhak disebut pengecut. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung diri dari perangai ini. Oleh karena itu, iman yang sempurna, tawakkal dan keberanianlah yang dapat mencegah dari perangai tersebut. [4]

KERJASAMA JIN DAN MANUSIA BERAKIBAT AZAB DI NERAKA
Allah Azza wa Jalla adalah Rabb kita, tiada tempat bernaung selain-Nya, tiada tempat bersandar dari berbagai kesulitan dan kesempitan selain Dia Azza wa Jalla, tiada yang disembah selain Allah Azza wa Jalla. Maka, tidaklah pantas disembah, dimintai doa dan dimintakan perlindungan, atau ditakuti selain Allah Azza wa Jalla. Demi mencapai kesenangan yang semu dan sesaat, masih dijumpai sebagian orang mengambil jalan pintas dengan menjalin kerjasama dengan bangsa setan yang terkutuk. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ الْإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan di hari Allah menghimpun mereka semua (Allah berfirman): “Hai jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan jin dari golongan manusia: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami”.Allah berfirman: “Neraka itulah tempat tinggal kalian, kalian kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Rabb kalian Maha bijaksana lagi Maha mengetahui”. [al-An`âm/6:128]

Dalam ayat ini digambarkan bahwa sebagian dari jin dan manusia telah mendapatkan pelayanan satu sama lain. Jin merasa senang karena manusia menaatinya, menyembahnya, dan mengagungkannya, bahkan memohon perlindungan darinya. Sementara manusia senang karena mencapai tujuan-tujuannya dengan bantuan jin agar hawa nafsunya terpenuhi. Jadi, sesungguhnya manusia telah menyembah jin kemudian jin memberikan pelayanannya kepada manusia dan tercapai sebagian hajat duniawinya.[5] Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha penyayang, Kami jadikan baginya setan (yang menyesatkan). Maka, setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya para setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. [az-Zukhruf/43:35-36]

Lihatlah bagaimana Allah Azza wa Jalla memastikan kesesatan dan menjadikan neraka sebagai tempat pembalasan bagi orang-orang yang telah menjadikan jin sebagai pelindung yang diagungkan, ditakuti, ditaati dan dinanti perkara-perkara gaib darinya. ‘Iyâdzan billâh.

BAGAIMANA SEHARUSNYA BERLINDUNG?
Kepada siapa meminta perlindungan dari gangguan setan? Hakekat memohon perlindungan adalah lari menghindar dari sesuatu yang ditakuti menuju siapapun yang dapat memberikan perlindungan dan keselamatan.[6] Ketahuilah sesungguhnya memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla berpasrah diri kepada-Nya dari segala keburukan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai al-Falaq. Dari kejahatan makhluk-Nya”. [al-Falaq/113:1-2]

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Yang memelihara dan menguasai) manusia”. [an-Nâs/114:1]

Setiap perbuatan atau perkataan yang di dalamnya terdapat permintaan adalah ibadah. Maka, memohon perlindungan adalah suatu bentuk ibadah. [7] Dengan demikian, tidak dibenarkan hal itu ditujukan kepada selain Allah Azza wa Jalla, karena itu adalah perbuatan syirik. Jadi, mengharap kebaikan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dialah Yang Maha menghidupkan, mematikan dan membangkitkan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah Azza wa Jalla (untuk disembah), sesembahan-sesembahan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak suatu madharat dari diri mereka dan tidak pula dapat memberi suatu manfaat, dan (juga) tidak kuasa mematikan atau menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.[al-Furqân/25:3]

“Perlu diketahui bahwa suatu bentuk permintaan dapat berbeda predikat dan ragamnya tergantung siapa yang diminta. Apabila pihak yang diminta setara (dengan yang meminta) maka disebut mencari (iltimâs), apabila yang diminta lebih rendah maka itu disebut perintah. Namun, apabila yang diminta lebih tinggi maka disebut memohon (berdoa). Tidak diragukan bahwa seorang yang memohon perlindungan, dia tengah meminta kepada yang lebih tinggi darinya…” [8]. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon perlindungan dari gangguan setan hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

Dan katakanlah: “wahai Rabbi, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan godaan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Rabbi, dari kedatangan mereka kepadaku”. [al-Mukminûn/23:97-98]

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan,maka mohonlah perlindungan kepada Allah.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [Fushshilat/41:36]

Seorang Mukmin hendaknya berlindung kepada Allah Azza wa Jalla semata dari segala keburukan yang menimpanya, baik dari pertemuan dengan para setan, kehadiran mereka yang mengejutkan, ajakan kesesatan, bisikan ataupun godaan mereka untuk berbuat kemaksiatan. Apabila Allah Azza wa Jalla melindungi hamba-Nya dari keburukan ini dan mengabulkan permohonannya, maka dia akan selamat dari segala celaka dan keburukan, serta diberikan taufik untuk melakukan segala kebaikan.

SEMUA ADA TUNTUNANNYA DALAM ISLAM
Islam adalah agama yang sempurna. Tiada satupun permasalahan yang menjadi petaka bagi manusia disebabkan Islam belum menjelaskannya. Terlebih jika perkara itu terkait erat dengan konsistensi tauhid seorang hamba. Pastilah Islam menjauhkan kaum Mukminin dari berbagai kesyirikan. Dengan Islam ketentraman akan datang, keselamatan akan selalu menyertai, tauhid akan menjadi penyejuk hati yang mendamaikan hidup dan menerangi setiap langkah mereka. Berlindung dari apapun yang membahayakan kita hanya kepada Allah Azza wa Jalla adalah cerminan tauhid. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keteladanan kepada kita selaku umatnya.

عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيْمِ السُّلَمِيَّةِ قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم يَقُوْلُ : ((مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ "أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ "، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْئٌ حَتَّى يَرْ تَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذّلِكَ))

Dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: aku telah mendengar Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa singgah di sebuah tempat dan dia membaca “أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللّهَِ التَّامَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ “ (aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna dari keburukan apapun yang telah Allah ciptakan), maka tiada satu pun dapat mencelakakannya hingga dia meninggalkan tempat tersebut”. Dalam riwayat lain (disebutkan dengan bentuk perintah): “Jika salah seorang di antara kalian singgah di sebuah tempat hendaklah ia membaca….!!”.[9]

Inilah syariat Islam dalam memohon perlindungan. Yakni agar berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dengan firman-firman-Nya yang sempurna, yang tiada kekurangan atau aib padanya. Bukan berlindung kepada para jin, setan atau mantera azimat dukun, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum jahiliyah. Itu adalah perbuatan syirik karena memohon perlindungan adalah ibadah padahal ibadah hanyalah ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat member madharrat kepadamu dan tidak (pula) member manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [ al-Mâidah: 76]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa menyajikan sembelihan untuk setan, berdoa kepadanya, memohon bantuan dan lindungan darinya, mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang setan sukai, maka sungguh dia telah menyembah setan itu sekalipun dirinya tidak menamakan hal tersebut sebagai ibadah…”. [10]

Islam telah mengajarkan semua petunjuk berlindung dari berbagai hal yang mungkin menimbulkan bahaya kepada kita termasuk dari gangguan para setan. Mari kita cermati baik-baik doa dan dzikir-dzikir berikut ini. Semua telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَا ئِثِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan. [Doa masuk wc, HR. Muslim]

أَعُوْذُ بِاللَّهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَا نِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِالرَّ جِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dengan wajah-Nya yang mulia, kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan setan yang terkutuk”. [Doa masuk masjid: HR Abu Dâwud]

اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَالشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ

“… ya Allah, lindungi aku dari setan yang terkutuk”. [Bagian dari doa keluar masjid: HR Ibnu Mâjah]

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

Aku memohon perlindungan (kepada Allah) bagi kalian berdua dengan firman-firman Allah yang sempurna dari gangguan setan dan binatang, serta dari bahaya sihir ‘ain yang tajam. [Doa perlindungan bagi anak, HR al-Bukhâri]

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْْ الشَّيْطَأ نَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan menyebut nama Allah . Ya Allah, hindarkan kami dari setan. Jauhkan setan dari (anak) yang Engkau karuniakan kepada kami” [Doa berkumpul dengan isteri, HR al-Bukhâri, Muslim]

أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُ هُنَّ بَرُّ وَلاَ فَا جِرُ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذّرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُ قُ بِخَيْرٍ يَا رَححْمَنُ

Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân........…” [Doa mengusir setan jahat, HR. Ahmad]

Dan masih banyak lagi contoh-contoh tuntunan Rasulullah n bagi kita selaku umatnya dalam berlindung diri dari berbagai keburukan setan. Barangsiapa menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla, maka sungguh dia telah mencerminkan tauhid dirinya kepada Allah Azza wa Jalla .

BEBERAPA HIKMAH YANG DAPAT DIPETIK DARI PEMBAHASAN SINGKAT DI ATAS:
1. Islam mengajarkan umatnya untuk mempercayai adanya bangsa jin dan setan. Agar diwaspadai godaannya, bukan untuk ditakuti madharratnya, sebab tidak ada yang kuasa memberikan manfaat atau madharrat selain dengan izin Allah Azza wa Jalla.

2. Gangguan dan godaan setan mungkin datang kapan saja, namun seorang Mukmin dapat menghadapi dengan kekuatan tauhidnya yaitu berlindung kepada Rabb Azza wa Jalla Yang Maha segalanya.

3. Tidak dibenarkan takut kepada setan, apalagi meminta perlindungan kepada setan dari gangguannya. Karena yang demikian adalah syirik. Ketakutan itu justru akan menambah kejahatan dan kecongkakan setan terhadap manusia, setan akan menyiksa manusia dan membuat mereka semakin gelisah serta ketakutan.

4. Meyakini tempat-tempat seram yang bertuan “jin” serta takut karenanya adalah tahayul yang merusak kesucian tauhid. Karena pada saat itu dia seakan lupa akan perlindungan dan kekuasaan Allah Azza wa Jalla terhadap para hamba yang memohon perlindungan dari-Nya Azza wa Jalla.

5. Selayaknya bagi seorang Mukmin untuk memahami klasifikasi “takut” sebagaimana dijelaskan para Ulama, agar dirinya dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

6. Wajib memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata, baik dari gangguan setan atau dari keburukan apapun karena itulah cerminan tauhid.

7. Kerjasama atau barter jasa dan manfaat dengan para jin untuk mendapatkan sekelumit kenikmatan duniawi adalah kesyirikan yang akan berujung adzab Allah Azza wa Jalla.

8. Islam telah menuntun umatnya untuk segala kebaikan, mengokohkan tauhidnya dan menjauhkan diri dari kesyirikan yang akan menyengsarakannya di dunia dan di akhirat.

Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing setiap langkah kita, menjadikan kita hamba-Nya yang bertauhid di manapun kita berada, menerangi setiap lembaran hidup kita dengan pelita ilmu. Melimpahkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Amîn.

(Penulis adalah staf pengajar Pesantren Islam al-Irsyad Tengaran)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Fathul-Majîd: 196, Taisîrul-‘Azîzil-Hamîd: 176-177, At-Tamhîd: 171, Al-Qaulul-Mufîd: 162. Lihat juga kitab-kitab tafsir dalam penjabaran makna ayat di atas
[2]. Kesepakatan ini disebutkan dalam Fathul-Majîd: 196
[3]. Al-Qaulul-Mufîd: 162
[4]. Al-Qaulul-Mufîd fî Adillatit-Tauhîd: 110-113
[5]. Taisîrul-‘Azîzil-Hamîd: 177, lihat juga tafsir Sa‘di
[6]. Taisîrul-‘Azîzil-Hamîd: 175, At-Tamhîd: 167
[7]. At-Tamhîd: 168
[8]. At-Tamhîd: 168
[9].Keduanya diriwayatkan oleh Imam Muslim
[10]. Dinukil dari Taisîrul-‘Azîzil-Hamîd: hlm 179. Lihat Badâi‘ul-Fawâid: 2/461


Oleh

Ustadz Rijal Yuliar, Lc
Source :
http://almanhaj.or.id

Belum Terkabulnya Do’a akibat maksiat dan tidak mau bertaubat kepada Allah




Apakah tidak diterima dan tidak dikabulkannya do’a seorang mukmin sebagai hukuman atas kesalahan dan dosa yang ia lakukan?

Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya pertanyaan di atas, lantas beliau menjawab:


“Bisa jadi memang seperti itu. Tertundanya pengabulan do’a seorang mukmin boleh jadi sebagai hukuman baginya. Bisa jadi pula ia bertaubat dari dosa, namun taubatnya tidak tulus. Boleh jadi pula karena sebab yang lain. Bisa jadi ia melakukan berbagai dosa dan maksiat lainnya. Sehingga dari sini ia pun sadar dan terdesak untuk banyak bertaubat dan memohon taufik pada Allah. Kemudian Allah memberi petunjuk padanya agar terhindar dari maksiat lainnya. Dari sini, ia pun terdesak untuk tulus dalam bertaubat dan meminta keselamatan dari berbagai macam dosa. Inilah tanda ia mendapatkan taufik (hidayah). Jika seseorang terdesak meminta keselamatan dan taufik, lalu ia menyesali dosa yang ia perbuat, lantas ia betul-betul menyesali dosanya, menjauhinya dan mengiringinya dengan amalan sholeh,
inilah tanda yang menunjukkan bahwa Allah memberi taufik padanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (QS. Thaha: 82). Dalam ayat ini, Allah menyatakan mereka itu beriman, beramal sholeh dan akhirnya mendapatkan petunjuk.
Allah menyebutkan mengenai orang musyrik, seorang pembunuh dan pezina dalam firman-Nya,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan” (QS. Al Furqon: 70). Dalam ayat ini disebutkan kecuali bertaubat dan beramal sholeh. Artinya, mukmin yang benar adalah yang bertaubat dan melakukan amalan sholeh. Mukmin yang jujur punya semangat untuk terus bertaubat dan bersungguh-sungguh dalam memperbanyak shalat dan sedekah, memperbanyak dzikir, tasbih, tahlil dan berbagai macam kebaikan. Mereka benar-benar sungguh-sungguh dalam melakukan amalan kebajikan tersebut. Dengan demikian, semoga Allah menghapuskan kesalahan mereka dan semoga Allah menerima amalan baik mereka.

***
Pelajaran penting, isilah hari-hari kita dengan taubat, beramal kebajikan dan terus memperbaiki diri, niscaya do’a-do’a kita akan mustajab (mudah terkabul) dan segala kesulitan akan sirna, lalu datanglah berbagai kemudahan. Ingatlah, firman Allah Ta’ala,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 6). Dari sini, para ulama seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
_____________________________

Source :
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id



Tuesday, November 15, 2011

Ayat ash-Shifa (Six Quranic Verses of Healing)


 
Six Quranic Verses of Healing:  Ayat Ash-Shifa


وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

wa yashfi sudoora qawmin mumineena
And [God] shall heal the breast of the believers. (at-Tawba, 9:14)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Yaa ayyuha an-naasu qad ja’atkum maw`izhatun min rabbikum wa shifaun limaa fee as-sudoori wa hudan wa rahmatun lil-mumineen
Mankind there has come to you a guidance from your Lord and a healing for (the diseases) in your hearts, and for those who believe a guidance and a mercy. (Yunus, 10:57)

َيخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ

yakhruju min butooniha sharaabun mukhtalifun alwaanuhu feehi shifaun lin-naas
There issues from within the bodies of the bee a drink of varying colors wherein is healing for mankind. (an-Nahl, 16:69)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Wa nunazzilu mina al-qurani ma huwa shifaun wa rahmatun lil-mumineen
And We sent down in the Quran such things that have healing and mercy for the believers (an-Najm, 17:82)

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Wa idha maridtu fahuwa yashfeeni
And when I am ill, it is [God] who cures me.” (ash-Shu`ara, 26:80) (A supplication of Prophet Abraham [as])

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء

qul huwa lil-ladheena amanoo hudan wa shifaun
And declare (O Muhammad) that [the Quran] is a guidance and healing for the believers. (al-Fussilat, 41:44)

Prayer Request by Shaykh Gibril Fouad Haddad


 
Request:

Assalamualaiykum respected Sheikh,
Mowlana I am suffering from stress and sadness in my life. I feel as if everything is going wrong. My family is also upset too due to my sister’s choice of marriage. I also feel lost for grounds as I feel I’m backing away from Islam. Please pray that my family is filled with happiness and barkath.
jazakallah hair
wassalam

Response:

wa `alaykum salam,

Mawlana Shaykh Hisham will pray for you and your family.

The Holy Prophet (upon him blessings and peace) said that recitation of the following du`a will change sadness into happiness:

ما أَصابَ أحداً قَطُّ هَمٌّ ولا حُزْنٌ، فقال: اللهم إني عبدُك وابنُ عبدِك وابنُ أَمَتِك، ناصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ: أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَحاً

Allahumma inni `abduka
wabnu `abdika wabnu amatik
nasiyati bi-yadik
madin fiyya hukmuk
`adlun fiyya qada’uk
as’aluka bi-kulli ismin huwa lak
sammayta bihi nafsak
aw `allamtahu ahadan min khalqak
aw anzaltahu fi kitabik
awista’tharta bihi fi `ilmi al-ghaybi `indak
an taj`ala al-Qur’ana al-karima rabi`a qalbi
wa-nura sadri
wa-jala’a huzni
wa-dhahaba hammi

Hajj Gibril Haddad

 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prayer Request: Keeping a job


Request:

Hi,

I have recently started working in a job that I like but there is a possibility that due to outsourcing I might not have this job much longer. Could you please pray for me that Allah keeps me in this job until I am ready to move.

Please keep my name and identity anonymous.

Response:

Mawlana Shaykh Hisham will pray for you.
Recite every morning 100 times SubhanAllah wa bihamdihi, subhanAllah al-`azhim, astaghfirullah.
Hajj Gibril Haddad

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Prayer Request: Jins n Black Magic

  
Request:

bismillah ….. assalam …..
i have been following this bless n interesting site.
recently, we too have a problem. someone was planting black magics in our houses.
my daughter, was disturbed by jinns. she is staying with my x wife. we had asked ustaz for help. several of her jinns, old n new, had been removed. some even converted to islam.
however, the culprits were planting more jinns. she was disturbed again. we are worried.
everyday, we read ayat kursi abt x 7 times, several times surah al ikhlas, al falaq n an nas, doa, zikir. we put taweez in our houses. we had asked ustaz to ‘fence’ our houses.
please, maulana n staff, doa/pray for us. may Allah help us. thanks in advance. my name is [private], from malaysia.

Response:

wa `alaykum salam,

We are asking Mawlana Shaykh to pray for you all.

Follow the general prescription for protection from Jinn:

1. Recite the Du`a of Ayat al-Kursi once a day
2. Recite Ayat al-Kursi itself 3x a day
3. Have her to always wear the tawiz of Grandshaykh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q)

Staff


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Prayer Request: pray for me and the one i love

  
Request:

Aslamu AlayKum

My name is [private]. I told you to do istakhra for me and the reply to that istakhra was “it is OK inshallah“. The guy is called [private]. I expressed my feelings to him and he said if it is in qismat it will happen but I shouldn’t think about it because if it doesn’t happen I will get hurt. Please give me something to read and please pray for both of us that in jannat we be together INASHALLAH

JAZAKALLAH Khair

Response:

wa `alaykum salam,

Mawlana Shaykh Hisham will pray for you insha-Allah. Recite:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil-akhirati hasanatan wa-qina `adhab an-nar in every du`a.

Hajj Gibril Haddad


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prayer Request: For obstacles and failures

 

Request:

ASALAM …….
PLEASE DO PRAY FOR ME I HAVE FINANCIAL PROBLEMS , OBSTACLES & FAILURES. LOT OF STRESS IN WORK PLACE NO GROWTH OR PROMOTIONS
HUBBY HAS MARRIED A SECOND WOMEN ON NAME OF ISLAM IT HAS BROKEN ME ……………………………… AND AFFECTED MY HEALTH MENTALLY , PHYSICAL , & IT HURTS MY FEELINGS
JAZAK ALLAH
ALLAH HAFIZ

Response:

wa `alaykum salam,

Mawlana Shaykh Hisham will pray for you. Perhaps in the Divine Presence you are up for a big promotion, as Allah Most High said that He loves those who have sabr. Do not be sad or feel hurt. Allah will console you, just ask for contentment. Allah gives you health and rizq, recite in the morning 100 times SubhanAllah wa bi-hamdihi, SubhanAllah al-`Azim, Astaghfirullah.

Hajj Gibril Haddad


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Prayer Request: Confused

  
Request:

Assalamualaikum Sayidi Mawlana Shaykh Hisham,

I’m full of sin and have financial problems, my parents are not easy to help me even though they’re wealthy. I have a family to raise but our business has not given us profit yet. I cannot rely on myself in my decision because I’m a very bad person. Please pray for us and guide us in every moment because I always make the wrong move and have a dirty heart without your guidance.
We love you

Response:

wa `alaykum salam,

Mawlana Shaykh Hisham will pray for you. Recite 100 times: Ya Hafizh, Ya Sattar, Ya Qadir daily and Insha-Allah you will be better.

Hajj Gibril Haddad


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Marriage/ iman

 
Question:

http://eshaykh.com/dreams/istikhara-dreams-3/- this link outlines my situation. It is far too complicated so we both decided to part. It has been over a month, and im finding it extremely difficult to get over him, my iman has become so weak, i know what Allah (SWT) does is for the best. Can you please keep me in your duas, pray that I forget about him, move on and become a better muslim. I do have the love for Allah (SWT) and his Rasool (SAW) but I find it extremely hard to keep up with the daily salaah, I am extremely lazy, and I am aware of the punishment for missing it, but I still do, I want to get close to Allah (SWT) but I find it extremely difficult and then I feel Allah (swt) is turning his back on me. I feel extremely lonely. Can you please help me!! JZK.

Answer:

wa `alaykum salam,

Insha-Allah we are asking Shaykh Hisham Kabbani to pray for you. Start making this Dua for Depression . You may also benefit from this post.

Three Actions to Save Us from Unbelief

Salawat

The first of these good actions is Salawat for the Prophet (Allah’s blessings and peace be upon him):

“Allahumma salli ala Muhammadin wa ala ali Muhammadin wa salim.”

This gives our respect and love for our Prophet (Allah’s blessings and peace be upon him). It means:

“O my Lord. Give Muhammand (Allah’s blessings and peace be upon him) Your Mercy and Your Glory and Your Honor, here and hereafter.”

This respect, even if spoken only once in a man’s life, will come back at the last moment of his life to save him. It is a mercy from Allah.

To Do Goodness and to Help the Needy

Secondly, we have been ordered in Islam to do goodness along our lives (maruf). There is no permission for us to do or think badness for anybody. We must do goodness for everyone. Our faith pushes us away from badness and pulls us toward goodness. Even after our death we have been ordered to do goodness!

Wasiyyah is the obligatory inheritance we must leave for the general good of the community. One-third of our estate must be left for the benefit of the needy, and the other two-thirds may go to our heirs. This may be used to build schools, for instance, or hospitals, or to feed the poor. It is ordered for us.

Yet, as beneficial as wasiyyah may be, it is even more acceptable to Allah if you give during your life. It is, in fact, better to give one dollar with your own hand, during your life, than it is to leave seventy dollars in your will, after your death.

This action, to do goodness throughout your life and to give to those who are in need, will not leave a man at the end of his life, but will come back to save him. It is a sign that you believe in the Last Day, in the Judgment and the Resurrection.

To Forgive

“If anyone harms you, forgive him!”

This is the third action that will come back to save a man at the last moment of his life. The act of forgiveness cannot be lost to a man; it is the character of prophets.

If a man has the character to forgive people, Allah Almighty will forgive him huge sins. He will not give permission for the Angels to write any sin against him! People with the character of forgiveness are very, very few — not even one in one million! It is the reality of faith, for a believer believes that “If I am forgiving, my Lord is forgiving me.”

If anyone is forgiving, believer or unbeliever, his Lord is forgiving him. This is the character of the prophets and will come to a man at the last moment. He will not die an unbeliever. Even among believers, this character is very rare!

[Excerpts from book one,  Sufi Spiritual Practices for Polishing of the Heart
by Mawlana Shaykh Nazim].

Staff


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prayer Request: Home Sickness and bad health

 
Request:

I have joined a company in Saudi recently but my health seems to be going down and home sickness is the main reason. Please pray for me so that I settle down here and my old health problems are no more seen. Jazak Allah Khaira.

Response:

audhu billah mina ‘sh-shaytani ‘r-rajeem,

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem,

We ask Mawlana Shaykh Hisham Kabbani to pray for you.  You may recite 100 times daily ‘Ya Shafi” and 100 times “RabbunAllah, HasbunAllah.”

Dr. Karim Tourk

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Prayer Request: Wazifa for powers

 
Request:

Salam,

I hope you are doing well. My question is that is there any wazifa you can give me that would enable me to fly or to travel any part of the world in an instant?

Response:

wa `alaykum salam,

Having attained the level of disciple (murid), the seeker knows the Truth of Certainty. When the Saints of God witness that the seeker has reached enlightenment by passing the ten steps to discipleship, they will dress him or her with six powers. These are not powers that come from an external source, but rather they are unveiled from within the heart of the disciple. When they are opened, he will find himself dressed with them.

If these six powers of the heart are suppressed by the bad characteristics of the ego, they will never be released. The ego’s selfishness cannot accept anyone except itself, not even the shaykh.

{Saying, “I am your Lord, Most High“} (Suratu ’n-Nazi`at, 79:24)

The ego’s ultimate aim is to overthrow God’s dominion of the heart and for the ego to proclaim itself as lord. The ego wants to ride and control you, and it is able to suppress these powers in your heart. You cannot release them until you pass the ten steps of the disciple. Then it is as if you have been granted the highest level of clearance, for each of the ten steps is like a new level of security clearance.

For certain government services, you require security clearance. For example, while most people who work in the Department of Labor do not need such clearance because their regular duties are not sensitive in nature, many of those in the Department of Defense do. Without such clearance, you may only access unclassified areas. High-level government jobs require high levels of clearance. Applicants must be examined carefully before receiving this high-level clearance. Their family history and criminal records are examined, along with anything else that might make the candidate a risk. This information affects the level of clearance they are eligible to receive. Depending on the level of clearance, this research might go back as far as the age of five years.

The same is true in spirituality. When the disciple has achieved these ten levels, he is cleared to access classified materials. At that time, the disciple can access the six powers of the heart, powers that are found in the heart of every human being, without discrimination. Until you access them, these six powers are pressurized by the ego. The tyranny of the self is able to oppress you. All of this power that God put in your heart becomes suppressed in a small and narrow place, due to the very high pressure of selfishness and satanic influence. The pressurized place that holds these powers is a black clot in the heart. When you have achieved clearance through progress, that place becomes easy to open. When that pressurized clot is opened, it is like aerosol releasing a nice fragrance. Like the volcano, the heart containing these powers erupts, spreading love.

The six powers are of the heart are:

-  The Reality of Attraction (Haqiqatu ’l-jadhbah)
-  The Reality of Downpouring (Haqiqatu ’l-fayd)
-  The Reality of Focusing (Haqiqatu ’t-tawajjuh)
-  The Reality of Intercession (Haqiqatu ’t-tawassul)
-  The Reality of Guidance (Haqiqatu ’l-irshad)
-  The Reality of Scrolling (Haqiqatu ’t-tayy) [When disciples receive that they can move as they like in the dimensions of space.]

Every newborn child has these six powers, because every child is born innocent. The light of innocence is lost throughout life. God does not take it away; it is suppressed and pushed down into the heart as the child grows progressively farther away from his divine reality. A child may be raised by his parents in a situation contrary to his inherent innocence (fitrah). How severe the suppression of this light becomes depends on how the child is raised and how much the child is spoiled. As the child grows into adulthood, he or she may suddenly realize the importance of balancing the inner and outer dimension of his life, in order to release the spiritual power buried within them.

Maintaining balance becomes an integral part of the seeker’s discipline. It is very important to have the inward and the outward in harmony. A person’s outer behavior must match their inner reality, or else the six powers cannot be opened. In that case, they will continue to struggle.

Once there was a student of Sayyidina Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni ق named Orkallisa Muhammad who spent all his life trying to please his shaykh and be a good follower. He learned how to behave with the shaykh from the preceding story of Sayyidina Bayazid al-Bistami ق and his disciple.

One night, after making dhikr and praying the night prayer, everyone left and the mosque was closed. But Orkallisa Muhammad had hidden himself inside, behind a pillar. He was speaking to himself, like someone who speaks to his reflection in a mirror. In this dialogue, it was as if the body had one voice and the spirit another.

He said, “O Orkallisa Muhammad, you were never able to do anything. You always fail at what you touch. You failed and failed, until finally the shaykh pitied you and gave you money to buy a flock of sheep. You bought so many sheep and raised them until the sacred months arrived, but with every holiday in those months you sacrificed them in the Way of God until none were left. Your shaykh gave you money for the sheep in order for you to earn an income to help the community, but you went and slaughtered them all, and so you failed. Whatever the shaykh gives you to do, you fail.”

He was learning. He knew his self—the self that will destroy human beings. Never trust yourself and let it ride on you; you must ride on your self.

He continued, “O Orkallisa Muhammad, I make an oath that you are the worst of human beings, the lowest that anyone can imagine.” To show the sincerity of his oath, he added, “If I am not saying this with full conviction that I am the worst human being, then my beloved wife is divorced from me.”

With that oath, he was experiencing the reality of humility. He was genuinely accepting that he was the worst of human beings. At that moment, he heard his shaykh laughing, and he looked up and saw him. He said, “O my shaykh, you are here?”

Sayyidina Jamaluddin ق replied, “I was here from the beginning, O my son. Now I can open for you the six powers that are in your heart.”

Today, you have the Palm Pilot, and with its stylus you are able to bring up the information it holds. Such a stylus is not the same instrument that Sayyidina Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni ق was using, but technology imitates the abilities of spiritual teachers. By moving the Finger of Witnessing in front of the heart of the disciple, the shaykh opened the six realities for him. He was uploading, bringing that information up into the awareness of the disciple. As that information was being decoded, the disciple was ascending and descending in the mosque. He was so very light, for heavenly powers were raising him.

The disciple said, “Is this part of the spiritual path?”

The shaykh replied, “Yes it is, but this does not come to someone until he humbles himself. If he keeps thinking that he is something, then he will never reach the reality that he is asking to learn.”

Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

[excerpted from The Sufi Science of Self-Realization, Fons Vitae, 2006]

   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Prayer Request: Please help me clean my act …

  
Request:

Please, I need help from MawlanaShaykh. I try to do what needs to be done eachday- find it very difficult, have health issues though some say these are mostly mental, perhaps. Perhaps I am just plain lazy. Read that if one recites 1000 times Ya Hayyu Ya Qayyumu between sunnah and fard of fajr, laziness of all sorts goes away so recited that a few times.
Used to be energetic and hard-working. Now no matter what i do i can’t seem to fullfill any role to satisfaction – mother, housewife, daughter. Am a complete failure in all aspects of mylife, I have only the door of Mawlana Shaykh to knock on and askforhelp. Everyone around me is unhappy with me, please pray that I fulfill my roles and responsibilities to those in my care and make them happy. If there is something that I can recite inshaAllah i will.
Thankyouverymuch.

Response:

Since you said that you are praying fajr, that is a sign that you are not lazy, so you are trying only to convince yourself that you are lazy. Many people do their daily work but don’t pray fajr because they say we are lazy. You are praying fajr so you are not lazy. Some people put an alarm clock, it rings and then they go and turn it off.
So next time, I told them to put two alarm clocks. One near the bed and one far away from the bed, but you are not of that type. Since you are praying fajr, don’t let your ego overcome you . Raise the sword against your ego by reciting hasbunallah wa ni’ama ‘l-wakeel 100x, that is a sword against the ego.

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

   
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prayer Request: FINANCIAL DIFFICULTIES

  
Request:

Prayer request to help my family out of difficult financial times. My parents are involved in a serious financial case with the law and will have to go to court. They have wrongly been accused of taking money from a business and there is a chance they will be sentenced to prison. Please pray for my mother and father as they are innocent, also guide me by telling me which duas i need to do, to get out of this.

Response:

wa `alaykum salam,

Recite 100x hasbunallah wa ni`ama ‘l-wakeel and 100x hasbunallah rabbunallah and the du`a of the blind man every day and state your problem in this du`a every day. insha-Allah they will be ok, we are praying for them.

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Prayer Request: Istekhara for the man I like

  
Request:

Salaam my previous question and answer from SHAYKH HISHAM was Request:

Salaam, I would like to request for an istekhara to be done for me and a man that I like, for the purpose of marriage from Shaykh.

JazakAllah khairun,
Salaam

Response:

wa `alaykum salam,

Recite hasbunAllah wa ni`ama ‘l-wakeel 100 times and go ahead.

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

However, since then, the circumstances have changed. I no longer speak to this man. He is Shaykh Hishams Mureed. I wanted to Shaykh Hisham if they could give me some guidance on this matter Insha Allah

JazakAllah Khairun
Salaam

Response:

wa `alaykum salam,

Go ahead and speak to him.

Taher Siddiqui


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Emotional Disturb

  
Question:

Assalamualaikum.

How to cure emotional disturb?i have bad thoughts and swear to islam, allah and his rasul-rasul. It makes me feel doubt about my deen, islam practice.
I feel confuse, lost. I feel was-was about myself, life. I feel stressful and it is unpleasant feeling too. Im not sure about my life here. I already tried to feel positive and clarify myself but still i will go back to it. Im not sure my way. I dont know how to make first step again, im scare i will fail and feel insecure.

Answer:

wa `alaykum salam,

Insha-Allah Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani is praying for your upliftment.

The first step is to repent sincerely, make ghusl, pray 2 raka`ts of Tawbah, and ask Allah to forgive you through the intermediation of Sayyidina Muhammad (s) by reciting:

السلام عليك يا رسول الله إني سمعت قول الله تعالى (وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا) وإني اتيتك يا رسول الله مستغفرا ذنبي مستشفعا بك الى ربي

As-salamu `alayka ya Rasul-Allah. Inni sami`tu qawl allahu ta`ala: Wa law annahum idh zhalamoo anfusahum ja’ooka fa ’staghfaroollaha w ’astaghfara lahumu’r-rasoolu la-wajadoollaha tawwaban raheema . Wa inni ataytuka ya Rasulullahi mustaghfiran dhanbi mustashfi`an bika ila rabbi.

“Peace be upon you, O Messenger of Allah! I have heard Allah saying: {If they had only, when they were unjust to themselves, come unto thee and asked Allah’s forgiveness, and the Messenger had asked forgiveness for them, they would have found Allah indeed Oft-returning, Most Merciful}( 4:64), so I have come to you asking forgiveness for my sin, seeking your intercession with my Lord.”

Then most important after this is to take baya` (initiation) with a guiding murshid. We recommend to take online baya` with Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani.

Taher Siddiqui



amiin..InshaAllah.











 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys